Javelin Board untuk Transformasi Ide Menjadi Product-Market Fit

Panjang? Yuk cari bagian yang kamu perlu!

Saat membuat sebuah produk, salah satu langkah paling penting adalah validasi pasar. Sebuah startup tidak bisa berhasil tanpa adanya product-market fit. Terus, gimana cara kita melakukan eksperimen supaya produk kita bisa diterima oleh pasar?

Jawaban singkatnya: Javelin Board.

Apa sih Javelin Board itu?

Javelin Board to transform Product Ideas to Experiment
Javelin Board adalah suatu alat untuk mengubah ide produk ke dalam eksperimen untuk pasar

Secara sederhana, Javelin Board adalah sebuah alat untuk melakukan validasi ide dalam bentuk eksperimen. Akhir-akhir ini, metode lean startup sangat populer untuk digunakan yang mana merupakan metode untuk membuat MVP dengan sumber daya sesedikit mungkin agar jumlah iterasi maksimum. Dengan cara ini, terdapat ruang untuk kesalahan dalam produk. What? Kesalahan? Iya, kesalahan itu umum di startup, sebuah produk harus terus diiterasi untuk bisa mencapai product-market fit. Semakin banyak jumlah iterasi, semakin bagus.

Tapi, bukan artinya iterasi banyak itu bagus. Jumlah error di tiap iterasi juga harus dikurangi dong! Caranya gimana?

Caranya? Ya Javelin Board dong! Alat ini sempurna untuk melakukan eksperimen product-market fit. Metodologi ini akan membantu validasi ide-ide yang ada dan bagaimana mencatat respons pasar untuk memastikan kita dapat membuat produk yang sesuai kebutuhan mereka.

Bagaimana cara menggunakan Javelin Board?

Kunci: selalu mulai dari bagian sebelah kiriBrainstorming Area!

Untuk memvalidasi suatu produk, kita pastinya perlu ide produk terlebih dahulu. Iya dong, kalau gak ada produknya, apa yang mau diuji? Untuk dapat ide produk, bisa dipakai 4 bagian di Javelin Board ini:

Customer/Pelanggan

Siapa sih pasar yang mau kita sasar? (Sumber gambar: Unsplash)

Di bagian ini, perlu ditentukan siapa pasar yang mau kita sasar. Misal kita ingin buat sebuah e-commerce sayuran dengan pemasok langsung dari petani. Produk ini punya 2 pelanggan yang harus divalidasi: petani dan pembeli sayuran. Lebih bagus lagi kalau pelanggan ini bisa sespesifik mungkin, Contohnya untuk pembeli sayuran dapat ditulis sebagai: ibu rumah tangga dengan usia sekitar 30 tahun, atau ibu rumah tangga dari keluarga berpenghasilan menengah. Semakin spesifik tipe pelanggan yang disasar, semakin baik.

Ini contoh lain yang bisa kita pakai:

  • Produk yang ingin dibuat: Layanan streaming Drakor (Drama Korea)
  • Beberapa contoh pelanggan yang bisa divalidasi:
    • Siswa-siswa SMA atau mahasiswa yang suka nonton Drakor
    • Seseorang yang suka nonton Drama, tapi tidak melulu Drakor
    • Ibu rumah tangga yang suka nonton Drakor

Oke, sekarang kita sudah punya 3 calon pelanggan. Pilih satu. Pelanggan inilah yang akan menjadi fokus kita untuk eksperimen dengan produk yang dibuat. Terus yang dua lagi gimana? Jangan takut, kita bisa eksperimen lagi nanti! Yang penting, kita fokus dulu ke pelanggan yang memiliki potensial paling tinggi.

Problem/Permasalahan

Masalah apa yang dihadapi pelanggan untuk mencapai tujuannya? (Sumber gambar: Unsplash)

Sekarang, masalah apa sih yang pelanggan kita punya dalam mencapai tujuannya yang searah dengan produk kita? Supaya gampang, kita pakai contoh negara Indonesia ya.

Supaya mudah, yuk kita fokus ke salah satu pelanggan yang udah ditulis tadi: Siswa-siswa SMA atau mahasiswa yang suka nonton Drakor

Sekarang, coba kita list semua permasalahan yang kemungkinan dimiliki oleh jenis pelanggan ini:

  • Karena mereka masih kuliah / SMA, kemungkinan besar mereka hanya bisa nonton drama di luar jam sekolah, yang artinya waktu untuk menonton Drama Korea ini terbatas.
  • Di Indonesia, permasalahan internet lambat sangat umum. Apalagi untuk pelanggan yang tidak memiliki wi-fi dan harus memanfaatkan kuota untuk nonton Drama Korea. Masalah kuota dan kecepatan ini penting untuk bisnis streaming.
  • Adanya permasalahan bahasa yang membuat pelanggan sulit memahami drama yang ditonton

Tentunya, sekarang ketiga masalah ini masih merupakan asumsi. Itu alasannya kita perlu untuk melakukan eksperimen. Kita akan menggunakan 3 masalah ini untuk melakukan eksperimen terhadap asumsi ini, kalau benar, maka kita selangkah lebih dekat untuk mencapai product-market fit.

Solution/Solusi

Get product ideas that could solve our customer problems
Apa yang bisa kita tawarkan kepada pelanggan untuk menyelesaikan masalah mereka? (image source: Unsplash)

Nah, langkah inilah yang paling menentukan: apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan permasalahan calon pengguna kita? Solusi inilah yang akan kita lakukan eksperimen kepada pasar untuk menguji asumsi kita. Apakah solusi kita benar-benar bisa menyelesaikan masalah mereka?

Banyak solusi yang bisa kita coba, tapi untuk contoh ini, kita coba kita jenis yang paling sesuai dengan masalah di atas:

  • Coba tambahkan pilihan subtitles dan dubbing dalam bahasa Indonesia. Eksperimen. Yang mana yang paling sukses? Subtitle? Dubbing? Atau bahkan video normal tanpa subtitle dan dubbing?
  • Coba tambahkan fitur unduh video, sehingga pengguna bisa mengunduh video terlebih dahulu dibandingkan dengan streaming. Dengan cara ini, maka buffering bisa dikurangi. Apakah hasilnya lebih baik?
  • Coba unggah video di beberapa waktu yang berbeda. Waktu yang mana yang paling sukses untuk ditonton pengguna pada 6 jam setelah pengunggahan?

Dengan ini, kita bisa membuat 3 jenis percobaan. Hasilnya akan membuat kita selangkah lebih dekat dengan product-market fit dengan memanfaatkan hasil eksperimen pada iterasi produk berikutnya. Pada akhirnya, javelin board akan membawa produk kita lebih sesuai dengan pasar.

Assumption/Asumsi

Saat membuat daftar masalah atau solusi, ada banyak asumsi yang kita pakai. Pastikan semua asumsi ini dicatat dan diurutkan berdasarkan yang paling berisiko. Asumsi ini harus dipastikan saat eksperimen dilakukan.

Apakah mereka benar-benar memiliki internet yang lambat dan kuota terbatas?

Apakah mereka benar-benar menonton Drama Korea di luar jam sekolah? Atau bahkan mereka menonton bersama teman saat sekolah?

Semua asumsi ini perlu dipastikan sebelum produk kita di launch ke pasar.

Saatnya Pindah dari Brainstorm ke Execution

Sekarang, kita telah selesai dengan bagian kiri Javelin Board. Mantap. Tapi, yang paling penting adalah langkah selanjutnya. Eksekusi. Apa gunanya punya banyak ide tapi tidak ada yang di eksekusi?

Execution is everything, let’s start the experiment! (Image source: Unsplash)

Yuk mulai ke tahap yang asyik: eksperimen!

Sekarang, pindahkan kartu / post-it dari bagian kiri (brainstorming) ke kanan Javelin Board. Mana yang ingin kita eksperimen terlebih dahulu? Buat salah satu solusi dan lakukan eksperimen ke calon pelanggan yang sudah kita defiisikan. Hasil dari eksperimen ini akan membuat kita tahu apakah produk kita sesuai dengan kebutuhan pasar atau tidak.

Sebelum kita keluar dari gedung dan bertanya ke pelanggan apakah mereka suka atau tidak dengan produk kita, ada bagian yang perlu kita isi terlebih dahulu. Metode dan kriteria keberhasilan. Bagaimana kita menentukan apakah percobaan ini berhasil atau gagal? Ada banyak cara yang bisa dipilih, salah satu yang populer: A/B Test atau wawancara secara langsung. Sedangkan untuk kriteria keberhasilan, pilih sesuatu yang sesuai dengan tujuan produk kita, contohnya jumlah keluhan atau total waktu menonton yang dihabisakan pelanggan.

Selesai? Yuk, kita “keluar” dari gedung (atau, kalau sekarang sih ekperimen bisa dilakukan secara online kok. Hah? Gimana tuh? Maksudnya, kita uji idenya secara online, launch, dan pasang tracker untuk dapat hasil yang diperlukan).

Gimana? Apakah pelanggan suka dengan ide kita? Iya? Enggak? Yang terpenting: kumpulkan feedback sebanyak mungkin. Namanya juga eksperimen, berhasil atau gagal, yang paling penting kita dapat data untuk eksperimen selanjutnya.

Langkah terakhir adalah menuliskan hasil dan pembelajaran yang didapat dari percobaan. Cerita pengguna ini sangat penting untuk pengembangan produk kita kedepannya.

  • Apakah mereka lebih suka nonton Drama Korea dengan subtitle atau Dubbing?
  • Apakah mereka lebih suka download terlebih dahulu atau streaming?
  • Komplain apa yang pelanggan punya?
  • Apakah solusi kita menyelesaikan permasalahan mereka?

Contoh Penggunaan Javelin Board

Untuk kesimpulan, kita telah selesai melakukan percobaan untuk ide produk layanan streaming Drama Korea. Berikut langkah-langkahnya untuk memudahkan kita mengingat kembali apa yang sudah dipelajari.

  • Customer/Pelanggan – Siapa pasar yang coba kita sasar?
    • Siswa-siswa SMA atau mahasiswa yang suka nonton Drakor
    • Seseorang yang suka nonton Drama, tapi tidak melulu Drakor
    • Ibu rumah tangga yang suka nonton Drakor
  • Problem/Masalah – Masalah apa yang mereka punya untuk mencapai tujuan mereka?
    • Karena mereka masih kuliah / SMA, kemungkinan besar mereka hanya bisa nonton drama di luar jam sekolah, yang artinya waktu untuk menonton Drama Korea ini terbatas.
    • Di Indonesia, permasalahan internet lambat sangat umum. Apalagi untuk pelanggan yang tidak memiliki wi-fi dan harus memanfaatkan kuota untuk nonton Drama Korea. Masalah kuota dan kecepatan ini penting untuk bisnis streaming.
    • Adanya permasalahan bahasa yang membuat pelanggan sulit memahami drama yang ditonton
  • Solution/Solusi – Solusi apa yang kita punya untuk menyelesaikan masalah mereka?
    • Coba tambahkan pilihan subtitles dan dubbing dalam bahasa Indonesia. Eksperimen. Yang mana yang paling sukses? Subtitle? Dubbing? Atau bahkan video normal tanpa subtitle dan dubbing?
    • Coba tambahkan fitur unduh video, sehingga pengguna bisa mengunduh video terlebih dahulu dibandingkan dengan streaming. Dengan cara ini, maka buffering bisa dikurangi. Apakah hasilnya lebih baik?
    • Coba unggah video di beberapa waktu yang berbeda. Waktu yang mana yang paling sukses untuk ditonton pengguna pada 6 jam setelah pengunggahan?

Tentu saja, Anda bisa list masalah dan solusi Anda sendiri. Yang paling penting, tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan produk yang sesuai dengan pasar.

Setelah menentukan ketiga bagian tersebut, lakukan ekperimen kepada pelanggan yang sudah ditentukan. Apakah mereka suka dengan ide kita? Masukan dan feedback apa yang mereka kasih?

Oke, sekarang kita sudah dapat feedback, terus gimana? Ulangi lagi dong! Proses ini bersifat iteratif yang setiap langkahnya akan membuat ketika lebih dekat ke product-market fit! šŸ˜€

Terima kasih sudah membaca, kalau ada pertanyaan, langsung aja ditulis di kolom komentar ya!

Tinggalkan Balasan:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *